HASIL
RESUME
KEKHALIFAHAN
ABBASIYAH
Disusun Untuk Memenuhi
Salah Satu Tugas Mandiri
Mata Kuliah Sejarah
Kebudayaan Islam
Dosen: Sofia Ratna
Awaliyah Fitri M.Pd.I
Disusun oleh :
Nama : Tia Ardianti
NPM : 11.07.0310
FAKULTAS
TARBIYAH (PGMI III B)
INSTITUT
AGAMA ISLAM DARUSSALAM
CIAMIS
JAWA BARAT
2013
KEKHALIFAHAN
ABBASIYAH
Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: الخلافة
العباسية, al-khilāfah al-‘abbāsīyyah) atau Bani Abbasiyah(Arab:
العباسيون, al-‘abbāsīyyūn) adalah kekhalifahan kedua Islam yang
berkuasa di Bagdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat
dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan
melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa
setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan
menundukkan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani
Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang
termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652), oleh karena itu mereka juga
termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota
dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi
pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bagian
dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk. Selama 150 tahun mengambil
kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan
kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada
keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabid dan Fatimiyah. Kejatuhan
totalnya pada tahun 1258
disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang
menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang
dihimpun di perpustakaan Baghdad. Keturunan dari Bani Abbasiyah termasuk suku
al-Abbasi saat ini banyak bertempat tinggal di timur laut Tikrit, Iraq sekarang.
v
MENUJU PUNCAK KEEMASAN
Khilafah Abbasiyah
merupakan kelanjutan dari khilafah sebelumnya dari Bani Umayyah, dimana pendiri
dari khilafah ini adalah
Abdullah
al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah.
Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai
dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam
rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M).
Para sejarawan
biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode:
1.
Periode Pertama (132
H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Arab dan Persia pertama.
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya.
Secara politis, para
khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan
merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus.
·
Kemakmuran masyarakat mencapai tingkat
tertinggi.
·
Berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan
filsafat dan ilmu pengetahuan dalam
Islam.
Masa
pemerintahan
Abu al-Abbas,
pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. Selanjutnya
digantikan oleh
Abu Ja'far
al-Manshur (754-775
M), yang keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari
Bani Umayyah,
Khawarij,
dan juga
Syi'ah.
Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan
baginya satu per satu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali,
keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh
khalifah sebelumnya di
Syria dan
Mesir dibunuh karena tidak bersedia
membaiatnya, al-Manshur memerintahkan
Abu Muslim
al-Khurasani melakukannya,
dan kemudian menghukum mati Abu Muslim al-Khurasani pada tahun 755 M, karena
dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya
.
2.
Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut
periode pengaruh
Turki pertama.
3.
Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa
kekuasaan dinasti
Bani Buwaih dalam
pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia
kedua.
4.
Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa
kekuasaan daulah
Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah;
biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali)
Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah al-Kubra/Seljuk agung).
5.
Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa
khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di
sekitar kota
Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa
Mongol.
Kalau dasar-dasar
pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas
as-Saffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada
tujuh khalifah sesudahnya, yaitu
al-Mahdi (775-785 M),
al-Hadi (775- 786 M),
Harun
Ar-Rasyid (786-809 M),
al-Ma'mun (813-833 M),
al-Mu'tashim (833-842 M),
al-Watsiq (842-847 M), dan
al-Mutawakkil (847-861 M).
Perekonomian mulai
meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan
peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi.
Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa
kekayaan.
Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.
Pada Masa Harun
Ar-Rasyid
Kekayaan negara
banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan
rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Di samping itu,
pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan,
pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada
zaman keemasannya. Pada masa inilah negara
Islam menempatkan dirinya sebagai negara
terkuat dan tak tertandingi.
Khalifah yang
sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan
buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku
Yunani, ia
menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan
Kristen dan penganut agama lain yang ahli (
wa
laa haula wa laa quwwata illaa billaah). Ia juga banyak mendirikan sekolah,
salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah,
pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan
yang besar. Pada masa
Al-Ma'mun inilah
Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan
ilmu pengetahuan.
·
Memberi peluang besar kepada orang-orang
Turki untuk masuk dalam pemerintahan,
keterlibatan mereka dimulai sebagai
tentara pengawal.
·
Praktek orang-orang
muslim mengikuti perang sudah terhenti.
·
Tentara dibina secara khusus menjadi
prajurit-prajurit profesional.
v KEMUNDURAN
dan KEHANCURAN
Kemunduran
Adapun hal-hal yang membawa kemunduran yang akhirnya berujung pada
kejatuhan Bani Umayyah dapat diidentifikasikan antar lain sebagai berikut:
1.
Pertentangan keras antara suku –
suku Arab yang sejak lama terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Arab Utara yang
disebut Mudariyah yang menempati Irak dan Arab Selatan Himyariyah yang berdiam
di wilayah Suriah. Di zaman Umayyah persaingan antar etnis itu menapai
puncaknya, karena para khalifah cenderung kepada satu pihak dan menafikan yang
lainnya.
2.
Ketidak puasan sejumlah pemeluk
Islam non Arab. Mereka yang merupakan pendatang baru dari kalangan
bangsa-bangsa yang dikalahkan mendapat sebutan “Mawali”, suatu
stastus yang menggambarakan inferioritas di tengah-tengah keangkuhan
orang-orang Arab yang mendapat fasilitas dari penguasa Umayyah. Mereka
bersama-sama Arab mengalami beratnya peperangan dan bahkan atas rata-rata orang
Arab, tetapi harapan mereka untuk mendapatkan tunjangan dan hak-hak bernegara
tidak dikabulkan. Seperti tunjangan tahunan yang diberikan kepada Mawali ini
jumlahnya jauh lebih kecil dibanding tunjangan yang dibayarkan kepada orang
Arab.
3.
Latar belakang terbentuknya
kedaulatan Bani Umayyah tidak dapat dilepaskan dari konflik-konflik politik.
Kaum syi`ah dan khawarij terus berkembang menjadi gerakan oposisi yang kuat dan
sewaktu-waktu dapat mengancam keutuhan kekuasaan Umayyah. Disamping
menguatnya kaum Abbasiyah pada masa akhir-akhir kekuasaan Bani Umayyah yang
semula tidak berambisi untuk merebut kekuasaan, bahkan dapat menggeser
kedudukan Bani Umayyah dalam memimpin umat.
Khilafah Abbasiyah
juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di
bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan
pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga
Baitul-Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana
yang besar diperoleh antara lain dari
al-Kharaj, semacam pajak
hasil bumi.
Setelah khilafah
memasuki periode kemunduran, pendapatan negara menurun sementara pengeluaran
meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh:
Makin menyempitnya wilayah kekuasaan.
Banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu
perekonomian rakyat.
Diperingannya pajak.
Banyaknya dinasti-dinasti kecil yang
memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti.
Sedangkan
pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh :
kehidupan para khalifah dan pejabat semakin
mewah.
Jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat
melakukan korupsi.
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan
perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk
memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua, faktor ini saling
berkaitan dan tak terpisahkan.
v
PENGARUH MAMLUK
Kekhalifahan Abbasiyah
adalah yang pertama kali mengorganisasikan penggunaan tentara – tentara budak
yang disebut Mamluk pada abad ke-9.
Dibentuk oleh Al-Ma'mun,
tentara-tentara budak ini didominasi oleh bangsa Turki tetapi
juga banyak diisi oleh bangsa Berber dari Afrika Utara dan Slav dari Eropa Timur.
Ini adalah suatu inovasi sebab sebelumnya yang digunakan adalah tentara bayaran
dari Turki. Bagaimanapun tentara Mamluk membantu sekaligus menyulitkan
kekhalifahan Abbasiyah. karena berbagai kondisi yang ada di umat muslim saat
itu pada akhirnya kekhalifahan ini hanya menjadi simbol dan bahkan tentara
Mamluk ini, yang kemudian dikenal dengan Bani
Mamalik berhasil berkuasa,
yang pada mulanya mengambil inisiatif merebut kekuasaan kerajaan Ayyubiyyah yang
pada masa itu merupakan kepanjangan tangan dari khilafah Bani Abbas, hal ini
disebabkan karena para penguasa Ayyubiyyah waktu itu kurang tegas dalam
memimpin kerajaan. Bani Mamalik ini mendirikan kesultanan sendiri di Mesir dan
memindahkan ibu kota dari Baghdad ke Cairo setelah
berbagai serangan dari tentara tartar dan
kehancuran Baghdad sendiri setelah serangan Mongol di
bawah pimpinan Hulagu Khan.
Walaupun berkuasa Bani Mamalik tetap menyatakan diri berada di bawah kekuasaan
(simbolik) kekhalifahan, dimana khalifah Abbasiyyah tetap sebagai kepala
negara.
v
PENGARUH BANI BUWAIH
Faktor lain
yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di
pusat pemerintahan, dengan membiarkan jabatan tetap dipegang bani Abbas, karena
khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa
diganggu gugat lagi, sedangkan kekusaan dapat didirikan di pusat maupun daerah
yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang
merdeka. Di antara faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas
menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Hal ini sebenarnya
juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan Islam sebelumnya. Tetapi, apa yang
terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda dengan yang terjadi sebelumnya.
v PENGARUH BANI
SELJUK
Faktor-faktor
penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada masa ini yaitu:
a) Luasnya
wilayah kekuasaan daulah Abbasiyyah sementara komunikasi pusat dengan daerah
sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para
penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.
b) Dengan
profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada
mereka sangat tinggi.
c) Keuangan
negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat
besar. Pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa
pengiriman pajak ke Baghdad.
Di samping
kelemahan khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah
menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain.
Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
Persaingan Antar Bangsa
Khilafah Abbasiyah
didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang
Persia.
Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa
Bani Umayyahberkuasa.
Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani
Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut
Ibnu Khaldun,
ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada
orang-orang
Arab.
1. Sulit
bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka
merupakan warga kelas satu.
2. Orang-orang
Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Dengan
demikian, khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional.
Meskipun demikian,
orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan
raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa
darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka
menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam).
Selain itu, wilayah
kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas, meliputi berbagai bangsa
yang berbeda, seperti
Maroko,
Mesir,
Syria,
Irak,
Persia,
Turki, dan
India. Mereka disatukan
dengan bangsa
Semit. Kecuali
Islam, pada waktu itu
tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut
dengan kuat. Akibatnya, di samping fanatisme kearaban, muncul juga fanatisme
bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu'ubiyah. Fanatisme kebangsaan ini
nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu, para khalifah
menjalankan sistem perbudakan baru. Budak-budak bangsa Persia atau Turki
dijadikan pegawai dan tentara. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji.
Oleh Bani Abbas, mereka dianggap sebagai hamba. Sistem perbudakan ini telah
mempertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki. Karena jumlah dan kekuatan
mereka yang besar, mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka; mereka
mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah. Kecenderungan masing-masing
bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah
Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, karena para khalifah adalah orang-orang kuat
yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga.
Setelah
al-Mutawakkil,
seorang khalifah yang lemah, naik takhta, dominasi tentara Turki tak terbendung
lagi. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan
berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh
Bani Buwaih, bangsa
Persia, pada
periode ketiga, dan selanjutnya beralih kepada
Dinasti Seljuk pada periode keempat, sebagaimana
diuraikan terdahulu.
Munculnya
dinasti-dinasti yang lahir dan ada yang melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad
pada masa khilafah Abbasiyah, di antaranya adalah:
Yang berbangsa
Persia:
Yang berbangsa
Turki:
Yang berbangsa Kurdi:
Yang berbangsa
Arab:
Yang mengaku
dirinya sebagai khilafah:
Dari latar
belakang dinasti-dinasti itu, nampak jelas adanya persaingan antarbangsa,
terutama antara
Arab,
Persia dan
Turki. Di samping latar
belakang kebangsaan, dinasti-dinasti itu juga dilatar belakangi paham
keagamaan, ada yang berlatar belakang
Syi'ah maupun
Sunni
Kehancuran
Faktor yang menyebabkan Daulah Bani
Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran antara lain adalah :
- Sistim pergantian khalifah melalui garis
keturunan adalah merupakan sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan
aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem
pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat
dikalangan anggota keluarga istana
- Latar belakang terbentuknya Daulah Bani Umayyah
tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa
Ali. Sisa-sisa kaum Syi`ah (pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi
gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti dimasa awal dan akhir maupun
secara tersembunyi seperti dimasa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah.
Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan
pemerintah.
- Pada masa kekuasaan bani Umayyah, pertentangan
etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb)
yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan
ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk
menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan
Mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya,
merasa tidak puasa karena status Mawali itu menggambarkan suatu
inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan
pada masa Bani Umayyah
- Lemahnya pemerintahan Daulat Bani Umayyah juga
disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak
khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka
mewarisi kekuasaan, disamping itu, golongan agama yang kecewa karena
perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang
- Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Daulah
Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh
keturunan al-Abbas Ibn Abd. Al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan
penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi`ah dan kaum Mawali yang merasa
dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.
v MUNCULNYA ALIRAN-ALIRAN SESAT DAN FANATISME KESUKUAN.
Faktor Internal
a)
Munculnya gerakan Zindiq yang menggoda rasa keimanan
para khalifah.
b)
Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq
berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang
ajaran, sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah
pihak. Gerakan
al-Afsyin dan
Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu.
c)
Banyak aliran Syi'ah yang dipandang
ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh
penganut Syi'ah sendiri. Aliran Syi'ah memang dikenal sebagai aliran politik
dalam
Islam yang berhadapan dengan paham
Ahlussunnah.
d)
Syi’ah dan Ahlussunnah sering terjadi konflik yang
kadang-kadang juga melibatkan penguasa.
Al-Mutawakkil,
misalnya, memerintahkan agar makam
Husein Ibn Ali di
Karballa dihancurkan. Namun anaknya,
al-Muntashir (861-862 M.), kembali memperkenankan
orang Syi'ah "menziarahi" makam Husein tersebut.
e)
Mu'tazilah yang cenderung rasional dituduh
sebagai pembuat
bid'ah oleh golongan
salafy.
Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh
al-Ma'mun,
khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M), dengan menjadikan Mu'tazilah
sebagai mazhab resmi negara dan melakukan
mihnah. Pada masa
al-Mutawakkil (847-861 M), aliran
Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan
golongan Sunni kembali naik daun.
Faktor Eksternal
1.
Perang
Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak
korban.
2.
Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Sebagaimana telah disebutkan, orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus
Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Perang Salib itu juga membakar
semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam.
Namun, di antara komunitas-komunitas Kristen Timur, hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara
Salib. Pengaruh perang salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol.
Disebutkan bahwa Hulagu Khan, panglima tentara Mongol, sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti
Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahlul-kitab. Tentara Mongol,
setelah menghancur leburkan pusat-pusat Islam, ikut memperbaiki Yerusalem.