Geosfer
adalah lingkungan dipermukaan bumi meliputi:
- Litosfer yaitu lingkungan kulit bumi atau kerak bumi
- Atmosfer yaitu lingkungan udara
- Hidrosfer yaitu lingkungan perairan
- Biosfer yaitu lingkungan makhluk hidup
- Antroposfer yaitu lingkungan manusia
Dalam mempelajari geografi diperlukan cabang-cabang ilmu yang lain sebagai penunjang karena geografi adalah kajian ilmu yang sangat kompleks dan di anggap sebagai induknya semua ilmu pengetahuan sehingga selalu berkaitan dengan ilmu-ilmu yang lain
- Litosfer yaitu lingkungan kulit bumi atau kerak bumi
- Atmosfer yaitu lingkungan udara
- Hidrosfer yaitu lingkungan perairan
- Biosfer yaitu lingkungan makhluk hidup
- Antroposfer yaitu lingkungan manusia
Dalam mempelajari geografi diperlukan cabang-cabang ilmu yang lain sebagai penunjang karena geografi adalah kajian ilmu yang sangat kompleks dan di anggap sebagai induknya semua ilmu pengetahuan sehingga selalu berkaitan dengan ilmu-ilmu yang lain
Geografi
yang merupakan Induk dari semua ilmu pengetahuan yang berkembang menjadi
berbagai ilmu pengetahuan baik IPA maupun IPS, tapi lucunya di Indonesia justru
dianggap mata Pelajaran yang tidak Penting!
PENGERTIAN
GEOGRAFI :1) Istilah Geografi diperkenalkan oleh Erastothenes kira-kira 1 abad
Sebelum Masehi. Pada awalnya,istilah Geografi masih menceritakan kesan-kesan
penjelajahan dari berbagai penjuru bumi, tanpa memperhatikan ketepatan letaknya
di muka bumi. Kelompok semacam ini di kenal dengan aliran logografi.
2)Pengetahuan Geografi yang membandingkan data Geografi & karakteristik
Wilayah merupakan salah satu perkembangan dari ilmu Geografi yang di sebut
Comparative geography. Salah satu tokoh penganutnya adalah Karl Ritter.
3)Thales(640-546 SM) adalah seorang ilmuwan Yunani kuno yang telah berusaha
mendokumentasikan berbagai macam keterangan yang berkaitan dengan Geografi.Ia
meneliti dan menggali berbagai informasi Geografi dengan melakukan perjalanan
ke berbagai tempat.
Di
IKIP Semarang dalam Seminar dan Lokakarya Peningkatan Kualitas Pengajaran
Geografi pada tahun 1988, IGI (Ikatan Geografi Indonesia) merumuskan bahwa
Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena Geosfer
dengan sudut pandang kelingkungan, kewilayahan dalam kontek keruangan.
SEDANGKAN PENGERTIAN GEOGRAFI MODERN: Geografi modern adalah Geografi
terpadu(integrated geografi) yang mempunyai ciri menggunakan tiga pendekatan,
yaitu pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kompleksitas wilayah. ANALISIS
SUATU MASALAH YANG MENGGUNAKAN PENDEKATAN KERUANGAN DAPAT DI LAKUKAN DENGAN
PERTANYAAN 5W 1H SEBAGAI BERIKUT: 1)WHAT(APA), 2)WHEN(KAPAN), 3)WHERE(DIMANA),
4)WHY(MENGAPA), 5)WHO(SIAPA), & HOW(BAGAIMANA)
OBJEK
GEOGRAFI ADALAH GEOSFER DENGAN TIGA PENDEKATAN YAITU : 1).Pendekatan
keruangan(spatial). 2).Pendekatan kelingkungan(ekologi). 3)'Pendekatan
kewilayahan(Regional).
Perkataan
Geografi berasal dari bahasa Yunani:Geo berarti Bumi dan Graphien berarti
Tulisan atau Gambaran. Jadi secara harfiah, Geografi berarti tulisan tentang
Bumi. Oleh karena itu, Geografi sering juga disebut ilmu bumi.
Secara
garis besar, seluruh objek kajian Geografi dapat dibedakan atas dua aspek
utama, yaitu aspek fisik dan aspek sosial. Aspek fisik meliputi aspek Kimiawi,
Biologis, Astronomis, dan sebagainya, sedangkan aspek sosial meliputi aspek
Antropologis, Politis, Ekonomis, dan sebagainya.
ILMU
PENUNJANG GEOGRAFI ATAU CABANG-CABANG DARI ILMU GEOGRAFI ADALAH:1). GEOLOGI,
2). GEOFISIKA, 3). METEOROLOGI, 4). ASTRONOMI, 5). BIOGEOGRAFI, 6). GEOMORFOLOGI,
7). HIDROGRAFI, 8). OSEANOGRAFI, 9).PALEONTOLOGI, 10). ANTROPOGEOGRAFI, 11).
GEOGRAFI MATEMATIK, 12). GEOGRAFI HISTORIK, 13). GEOGRAFI REGIONAL, 14).
GEOGRAFI POLITIK, 15). GEOGRAFI FISIK, 16). GEOGRAFI MANUSIA.
FUNGSI
PELAJARAN GEOGRAFI ADALAH: a). Mengembangkan pengetahuan tentang pola-pola
keruangan dan proses yang berkaitan. b). Mengembangkan keterampilan dasar dalam
memperoleh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan
Geografi. c). Menumbuhkan sikap, kesadaran, dan kepedulian terhadap lingkungan
hidup dan sumber daya serta toleransi terhadap keragaman sosial-budaya
masyarakat.
UJUAN
PEMBELAJARAN GEOGRAFI MELIPUTI TIGA ASPEK,YAITU PENGETAHUAN, KETERAMPILAN DAN
SIKAP.
I.PENGETAHUAN:a). Mengembangkan Konsep dasar Geografi yang berkaitan dengan pola keruangan dan proses-prosesnya. b). Mengembangkan pengetahuan sumber daya alam, peluang, dan keterbatasannya untuk dimanfaatkan. c). Mengembangkan Konsep dasar Geografi yang berhubungan dengan lingkungan sekitar, dan wilayah negara atau dunia. II.KETERAMPILAN:a). Mengembangkan keterampilan mengamati lingkungan fisik, lingkungan sosial dan lingkungan binaan. b). Mengembangkan keterampilan mengumpulkan, mencatat data dan informasi yang berkaitan dengan aspek-aspek keruangan. c). Mengembangkan Keterampilan Analisis, Sintesis, kecenderungan, dan hasil-hasil dari interaksi berbagai gejala Geografis. III.SIKAP:a). Menumbuhkan kesadaran terhadap perubahan fenomena Geografi yang terjadi di lingkungan sekitar. b). Mengembangkan sikap melindungi dan tanggung jawab terhadap kualitas lingkungan hidup. c). Mengembangkan kepekaan terhadap permasalahan dalam pemanfaatan sumber daya. d). Mengembangkan sikap toleransi terhadap perbedaan sosial Budaya. e). Mewujudkan rasa cinta tanah air dan persatuan bangsa.
I.PENGETAHUAN:a). Mengembangkan Konsep dasar Geografi yang berkaitan dengan pola keruangan dan proses-prosesnya. b). Mengembangkan pengetahuan sumber daya alam, peluang, dan keterbatasannya untuk dimanfaatkan. c). Mengembangkan Konsep dasar Geografi yang berhubungan dengan lingkungan sekitar, dan wilayah negara atau dunia. II.KETERAMPILAN:a). Mengembangkan keterampilan mengamati lingkungan fisik, lingkungan sosial dan lingkungan binaan. b). Mengembangkan keterampilan mengumpulkan, mencatat data dan informasi yang berkaitan dengan aspek-aspek keruangan. c). Mengembangkan Keterampilan Analisis, Sintesis, kecenderungan, dan hasil-hasil dari interaksi berbagai gejala Geografis. III.SIKAP:a). Menumbuhkan kesadaran terhadap perubahan fenomena Geografi yang terjadi di lingkungan sekitar. b). Mengembangkan sikap melindungi dan tanggung jawab terhadap kualitas lingkungan hidup. c). Mengembangkan kepekaan terhadap permasalahan dalam pemanfaatan sumber daya. d). Mengembangkan sikap toleransi terhadap perbedaan sosial Budaya. e). Mewujudkan rasa cinta tanah air dan persatuan bangsa.
PRINSIP-PRINSIP
GEOGRAFI: a). prinsip persebaran, yaitu suatu gejala yang tersebar tidak merata
di permukaan bumi yang meliputi bentang alam, tumbuhan, hewan dan Manusia. b).
prinsip interrelasi, yaitu suatu hubungan yang saling terkait dalam ruang,
antara gejala yang satu dengan yang lain. c). prinsip deskripsi, yaitu
penjelasan lebih jauh mengenai gejala-gejala yang diselidiki/dipelajari.
Deskripsi, selain disajikan dengan tulisan atau kata-kata, dapat juga
dilengkapi dengan diagram, grafik, tabel, gambar dan peta. d). prinsip
korologi, yaitu gejala, fakta, ataupun masalah geografi di suatu tempat yang di
tinjau sebarannya, interrelasinya, interaksinya, dan integrasinya dalam ruang
tertentu, sebab ruang itu akan memberikan karakteristik kepada kesatuan gejala
tersebut.
EMPAT
HAL PENTING DALAM GEOGRAFI:1). PENCITRAAN(DESCRIPTION). 2).
PENJELASAN(EXPLANATION). 3). PENGANALISAAN(ANALYSIS). DAN 4).
PENERAPAN(APPLICATION).
CONTOH
PENERAPAN PRINSIP GEOGRAFI:Daerah Pantai dengan penghasilan utama ikan
sedangkan daerah Pegunungan merupakan daerah dengan penghasilan Utama Sayur
mayur, Perbedaan Potensi inilah yang disebut PERSEBARAN. Kalau Perbedaan
penghasilan ini menyebabkan terjadinya hubungan antara orang daerah Pantai
dengan orang daerah Pegunungan dengan Tujuan saling melengkapi keperluan dari
berbagai aspek kehidupan baik secara Fisik maupun secara sosial maka hubungan
inilah yang di sebut INTERRELASI, Dan setiap hubungan baik berupa Relasi maupun
Interrelasi akan menimbulkan cerita atau DISKRIPSI, Cerita atau DISKRIPSI
diyakini kebenarannya jika di dukung oleh fakta-fakta yang benar atau KOROLOGI.
INTERAKSI
SDM & SDA : Sumber Daya Manusia(SDM) & Sumber Daya Alam(SDA). Kita
semua ketahui bahwa Kemajuan suatu Negara sangat tergantung dengan Interaksi
SDM dengan SDA. Kekayaan SDA harus diikuti kemampuan SDM untuk mengolah &
mengelolanya, karena Kekayaan SDA yang melimpah tanpa diiringi SDM yang
berkualitas maka kekayaan alam itu tidak bermanfa'at. Contoh: Kota yang paling
potensial di Amerika Serikat adalah kota Orlando,dengan kemampuan SDMnya mampu
menjadikan Amerika Serikat sebagai Negara yang kaya Raya! Pada hal Potensi kota
Orlando itu setara dengan potensi kabupaten Sintang,Kalimantan Barat pada hal
Kabupaten Sintang bukan merupakan Kabupaten yang paling potensial untuk wilayah
Kalimantan Barat.dan di Indonesia Kabupaten yang lebih potensial daripada
Kabupaten Sintang itu Banyak hanya saja SDMnya belum mampu mengolah SDAnya
sendiri alias minta Tolong dengan tenaga ahli dari luar negeri.
PENGOLAHAN
SUMBER DAYA ALAM OLEH TENAGA AHLI ASING: Ibarat kita merupakan sebuah keluarga
yang ingin belajar membuat kue dan minta tolong tetangga yang pandai membuat
kue, Tetangga yang pandai membuat kue itu datang ke rumah kita tidak membawa
apa-apa! Jadi dari Bahan,cetakan kue semua milik kita! tapi setelah kue itu
masak maka separuh cetak kita berikan kepada Tetangga yang pandai membuat kue
tadi sebagai tanda terima kasih,hal itu sangat wajar Kalau ada usaha kita untuk
belajar(alih teknologi)! Kalau tidak ada usaha alih teknologi alias minta
tolong terus menerus berapa kerugian yang kita terima? Yang lebih parah selama
ini sudah Banyak Anak bangsa yang di utus sebagai duta bangsa dalam rangka alih
teknologi, tapi setelah di lapangan tidak diakui bangsa kita sendiri! Dengan
bukti Gaji tenaga kerja luar Negeri lebih tinggi di banding tenaga kerja dalam
Negeri dalam Posisi atau Pangkat yang sama.
FENOMENA
GEOGRAFI:Fenomena Geografi adalah suatu gejala,kejadian atau peristiwa yang
berhubungan dengan Geografi! di dalam Geografi dibagi menjadi 2(dua)
yaitu:1)Fenomena Alam yang dibahas dalam Geografi Fisis. & 2)Fenomena
Sosial yang dibahas dalam Geografi Sosial.
CONTOH
FENOMENA ALAM: Gempa Bumi(Seisme), Tsunami,Kegunung Apian(Vulkanisme),
Pergeseran Lempeng Bumi(Tektonisme),Pengikisan(Erosi),Tanah Runtuh, Tanah
Mengalir dan sebagainya.
CONTOH
FENOMENA SOSIAL:Krisis Ekonomi, Kesenjangan Sosial, Globalisasi, westernisasi,
Penyimpangan Sosial, Alkulturasi Kebudayaan, dan lain-lain
BEBERAPA
ILMU PENUNJANG GEOGRAFI FISIS: GEOLOGI, GEOMORFOLOGI, ZOOGEOGRAFI,
FITOGEOGRAFI, ASTRONOMI, KLIMATOLOGI, GEOKIMIA, ILMU TUBUH TANAH, VULKANOLOGI.
BEBERAPA
ILMU PENUNJANG GEOGRAFI SOSIAL: ANTROPOGEOGRAFI, GEOGRAFI POLITIK, GEOGRAFI
EKONOMI, GEOGRAFI SOSIAL, DEMOGRAFI, GEOGRAFI SEJARAH, GEOGRAFI BUDAYA,
GEOGRAFI KEPENDUDUKAN.
TSUNAMI:
Tsunami adalah gempa bumi yang di ikuti naiknya air laut yang ekstrim secara
mendadak! Dan itu semua bisa terjadi bila gempanya merupakan gempa Tektonik
dengan pusat gempa di dasar laut dan membentuk Palung laut! Karena meluapnya
air laut disebabkan oleh adanya pergeseran lempeng yang membentuk Palung di
dasar laut secara mendadak,maka terjadilah Pengisian Palung tersebut sehingga
menyebabkan air laut menjadi surut, baru sesaat kemudian terjadi luapan air laut
dikarenakan Pengisian Palung secara cepat dan mendadak tidak tertampung oleh
Palung tersebut! Jadi prosesnya seperti Kalau kita mengalirkan air pada sebuah
tempat yang miring dan diberi penghalang/tanggul!
KONSEP-KONSEP
ESSENSIAL GEOGRAFI: 1)Lokasi:a)absolut(berdasarkan garis lintang & garis
bujur),b)relatif(tergantung daerah
sekitarnya).2)Jarak:a)absolut(km),b)relatif(jam)
3)Keterjangkauan(Contoh:komunikasi). 4)Pola(berupa gambar/Fenomena Geosfer).
5)Morfologi(bentang alam hasil bentukan tenaga endogen/exogen).
6)Aglomerasi(pengelompokan fenomena). 7)Nilai Kegunaan. 8)Interaksi &
Interdependensi. 9)Diferensiasi Area. 10)Keterkaitan Keruangan.
KONSEP
ESSENSIAL GEOGRAFI OLEH WHIPLE: 1)BUMI SEBAGAI PLANET, 2)VARIASI CARA HIDUP,
3)VARIASI WILAYAH ALAMIAH, 4)MAKNA WILAYAH BAGI MANUSIA, 5)ARTI PENTING LOKASI
DALAM MEMAHAMI PERISTIWA DUNIA.
Prinsip
dan Konsep Dasar Geografi
A. Prinsip geografi ada 4, yaitu :
1. Prinsip Penyebaran
Gejala geografi baik tentang alam, tumbuhan, hewan, dan manusia yg tersebar secara tidak merata di muka bumi.
Contoh : Timah di Pulau Bangka, pohon bakau di pantai.
2. Prinsip Interelasi
Hubungan yg saling terkait antara gejala yg satu dgn gejala yg lain dlm satu ruang tertentu.
Contoh : hutan gundul terjadi karena penebangan liar.
3. Prinsip Korologi ( Keruangan )
Bahwa setiap prinsip ini gejala – gejala, fakta – fakta, dan masalah – masalah geografi ditinjau dari penyebarannya, interelasinya, dan interaksinya dan hubungan itu terdapat pada ruang tertentu. Contoh : Padi hidup subur di daerah dataran rendah.
4. Prinsip Deskriptif
Prinsip untuk memberikan pelajaran atau gambaran lebih jauh tentang gejal – gejala, atau masalah – masalah yg diselidiki dlm bentuk tulisan atau kata – kata yg dapat dilengkapi dgn : diagram, grafik, table, gambar, dan peta.
B. Konsep dasar geografi yg esensial, ada 10 yaitu :
1. Konsep Lokasi : Letak suatu tempat di permukaan bumi.
1.1. Lokasi Absolut : Tempatnya tetap.
1.2. Lokasi relative : tempatnya bias berubah karena factor tertentu.
2. Konsep jarak : Jark antara tempat satu ke tempat lain.
2.1. Jarak Absolut : Diukur dgn satuan ukuran.
2.2. Jarak relative : Dikaitkan factor waktu ekonomi dan psikologis.
3. Konsep keterjangkauan :
Hub. Antara satu tempat dgn tempat yg lain, dikaitkan dgn sarana dan prasarana angkutan.
4. Konsep pola :
Berkaitan dgn persebaran fenomena geosfer di permukaan bumi.
Contoh : Persebaran flora dgn fauna.
5. Konsep Morfologi :
Berkaitan dgn fauna bentuk permukaan bumi, sebagai akibat tenaga eksogen dan endogen.
Contoh : Pegunungan, lembah, dataran rendah.
6. Konsep Aglomerasi :
Pemusatan penimbunan suatu kawasan
contoh : kawasan industri, pertanian, pemukiman.
7. Konsep nilai kegunaan :
Suatu nilai guna tempat –tempat di bumi.
Contoh : tempat wisata.
8. Konsep Interaksi dan Interpendensi :
Saling berpengaruh dan ketergantungan antara gejala di muka bumi.
Contoh : Antara desa dgn kota.
9. Konsep Deferensiasi Areal:
Fenomena yg berbeda antara tempat yg satu dgn yg lain.
Contoh : Areal pedesaan khas dan corak persawahan.
10. Konsep keterkaitan keruangan :
Keterkaitan persebaran suatu fenomena dgn fenomena lain.
Contoh : daerah pantai pada umumnya bermata pencaharian nelayan.
A. Prinsip geografi ada 4, yaitu :
1. Prinsip Penyebaran
Gejala geografi baik tentang alam, tumbuhan, hewan, dan manusia yg tersebar secara tidak merata di muka bumi.
Contoh : Timah di Pulau Bangka, pohon bakau di pantai.
2. Prinsip Interelasi
Hubungan yg saling terkait antara gejala yg satu dgn gejala yg lain dlm satu ruang tertentu.
Contoh : hutan gundul terjadi karena penebangan liar.
3. Prinsip Korologi ( Keruangan )
Bahwa setiap prinsip ini gejala – gejala, fakta – fakta, dan masalah – masalah geografi ditinjau dari penyebarannya, interelasinya, dan interaksinya dan hubungan itu terdapat pada ruang tertentu. Contoh : Padi hidup subur di daerah dataran rendah.
4. Prinsip Deskriptif
Prinsip untuk memberikan pelajaran atau gambaran lebih jauh tentang gejal – gejala, atau masalah – masalah yg diselidiki dlm bentuk tulisan atau kata – kata yg dapat dilengkapi dgn : diagram, grafik, table, gambar, dan peta.
B. Konsep dasar geografi yg esensial, ada 10 yaitu :
1. Konsep Lokasi : Letak suatu tempat di permukaan bumi.
1.1. Lokasi Absolut : Tempatnya tetap.
1.2. Lokasi relative : tempatnya bias berubah karena factor tertentu.
2. Konsep jarak : Jark antara tempat satu ke tempat lain.
2.1. Jarak Absolut : Diukur dgn satuan ukuran.
2.2. Jarak relative : Dikaitkan factor waktu ekonomi dan psikologis.
3. Konsep keterjangkauan :
Hub. Antara satu tempat dgn tempat yg lain, dikaitkan dgn sarana dan prasarana angkutan.
4. Konsep pola :
Berkaitan dgn persebaran fenomena geosfer di permukaan bumi.
Contoh : Persebaran flora dgn fauna.
5. Konsep Morfologi :
Berkaitan dgn fauna bentuk permukaan bumi, sebagai akibat tenaga eksogen dan endogen.
Contoh : Pegunungan, lembah, dataran rendah.
6. Konsep Aglomerasi :
Pemusatan penimbunan suatu kawasan
contoh : kawasan industri, pertanian, pemukiman.
7. Konsep nilai kegunaan :
Suatu nilai guna tempat –tempat di bumi.
Contoh : tempat wisata.
8. Konsep Interaksi dan Interpendensi :
Saling berpengaruh dan ketergantungan antara gejala di muka bumi.
Contoh : Antara desa dgn kota.
9. Konsep Deferensiasi Areal:
Fenomena yg berbeda antara tempat yg satu dgn yg lain.
Contoh : Areal pedesaan khas dan corak persawahan.
10. Konsep keterkaitan keruangan :
Keterkaitan persebaran suatu fenomena dgn fenomena lain.
Contoh : daerah pantai pada umumnya bermata pencaharian nelayan.
Geografi
pertama kali dikemukakan oleh Erathotenes dalam tulisannya berjudul Geografika.
Dalam tahap selanjutnya, pengetahuan Geografi dikembangkan oleh Copernicus. Ia berpendapat bahwa bumi bukan merupakan pusat peredaran benda- benda langit, mataharilah yang menjadi pusat peredaran benda- benda langit. Teori tersebut dinamakan Heliosentris.
Pada abad pertengahan Bernadus Veranus membagi geografi menjadi 2 yaitu
Geografi generalis ( litosefer, hidrosfer, atmosfer, dan bentuk muka bumi)
Geografi spesialis (penduduk dan sosial)
Pada awal abad ke dua sebelum masehi, muncul tokoh geografi yang bernama Claudius Ptolemaeus, beliau mengartikan Geografi adalah suatu penyajian dari sebagian atau seluruhnya permukaan bumi melalui peta. Sumbangan yang paling berharga darinya yaitu usahanya untuk membuat peta yang terkenal dengan atlas ptolemaeus.
Dalam perkembangan selanjutnya muncul dua pandangan dalam geografi, yaitu fisis determinis( Ratzel, Huntington, Karl Richter) dan posibilis( Paul Vidal de La Blanche)
Pengertian Geografi The definition of Geography
JAMES
Geografi adalah ilmu yang melihat keteraturan gejala- gejala alam sehingga memberikan karakteristik suatu tempat. Selanjutnya ia menyatakan bahwa geografi menyangkut kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk melihat persamaan dan perbedaan suatu tempat dengan tempat lain.
BARLOW
Geografi adalah ilmu yang mempelajari proses- proses yang berhubungan dengan lingkungan dan gejala- gejala serta pola- pola terkait yang dibahas.
BINTARTO
Geografi adalah ilmu pengetahuan yang menceritakan dan menerangkan sifat bumi, menganalisis gejala alam dan penduduk; mempelajari corak yang khas dalam kehidupan dan berusaha mencari fungsi unsur- unsur bumi dalam ruang dan waktu.
Hasil Seminar Lokakarya Semarang ( 1988).
Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan geosfer dan interakasi antara manusia dalam lingkungannya dengan sudut pandang kelingkungan dalam konteks keruangan dan kewilayahan.
Dalam tahap selanjutnya, pengetahuan Geografi dikembangkan oleh Copernicus. Ia berpendapat bahwa bumi bukan merupakan pusat peredaran benda- benda langit, mataharilah yang menjadi pusat peredaran benda- benda langit. Teori tersebut dinamakan Heliosentris.
Pada abad pertengahan Bernadus Veranus membagi geografi menjadi 2 yaitu
Geografi generalis ( litosefer, hidrosfer, atmosfer, dan bentuk muka bumi)
Geografi spesialis (penduduk dan sosial)
Pada awal abad ke dua sebelum masehi, muncul tokoh geografi yang bernama Claudius Ptolemaeus, beliau mengartikan Geografi adalah suatu penyajian dari sebagian atau seluruhnya permukaan bumi melalui peta. Sumbangan yang paling berharga darinya yaitu usahanya untuk membuat peta yang terkenal dengan atlas ptolemaeus.
Dalam perkembangan selanjutnya muncul dua pandangan dalam geografi, yaitu fisis determinis( Ratzel, Huntington, Karl Richter) dan posibilis( Paul Vidal de La Blanche)
Pengertian Geografi The definition of Geography
JAMES
Geografi adalah ilmu yang melihat keteraturan gejala- gejala alam sehingga memberikan karakteristik suatu tempat. Selanjutnya ia menyatakan bahwa geografi menyangkut kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk melihat persamaan dan perbedaan suatu tempat dengan tempat lain.
BARLOW
Geografi adalah ilmu yang mempelajari proses- proses yang berhubungan dengan lingkungan dan gejala- gejala serta pola- pola terkait yang dibahas.
BINTARTO
Geografi adalah ilmu pengetahuan yang menceritakan dan menerangkan sifat bumi, menganalisis gejala alam dan penduduk; mempelajari corak yang khas dalam kehidupan dan berusaha mencari fungsi unsur- unsur bumi dalam ruang dan waktu.
Hasil Seminar Lokakarya Semarang ( 1988).
Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan geosfer dan interakasi antara manusia dalam lingkungannya dengan sudut pandang kelingkungan dalam konteks keruangan dan kewilayahan.
Objek Studi Dalam Ilmu Geografi
1. Objek
Material Geografi
Yang dimaksud objek material geografi adalah segala sesuatu yang dipelajari dalam kaitannya dengan fenomena geosfer yang terdapat dan terjadi di lapisan litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, dan antroposfer.
Contoh Objek Material Geografi:
Yang dimaksud objek material geografi adalah segala sesuatu yang dipelajari dalam kaitannya dengan fenomena geosfer yang terdapat dan terjadi di lapisan litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, dan antroposfer.
Contoh Objek Material Geografi:
- Kabut, petir, awan adalah
fenomena geosfer yang terjadi di lapisan atmosfer;
- Gempa, tanah longsor,d an
patahan adalah fenomena geosfer yang terjadi di lapisan litosfer.
- Erosi, banjir dan tsunami
merupakan contoh kejadian yang terjadi pada lapisan hidrosfer;
- Kebakaran, perburuan gajah,
merupakan contoh kejadian di lapisan biosfer;
- Peperangan, kelaparan, wabah
penyakit, merupakan contoh kejadian di lapisan antroposfer.
2. Ojek Formal Geografi
Yang dimaksud dengan objek formal geografi adalah cara pandang dan cara berpikir mengenai fenomena geosfer. Cara pandang dan berpikir ini dapat dilakukan melalui analisis dengan pendekatan keruangan, kelingkungan dan kewilayahan.
Mempelajari geografi dengan mudah dapat dilakukan dengan bentuk beebrapa perrtanyaan kunci, diantaranya (what), dimana (where), akpan (When), mengapa (Why), siapa (Who), dan bagaimana (Who). Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan hasil kajian geografi yang sistematik.
Istilah
geografi untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Erastothenes pada abad ke 1.
Menurut Erastothenes geografi berasal dari kata geographica yang berarti
penulisan atau penggambaran mengenai bumi. Berdasarkan pendapat tersebut, maka
para ahli geografi (geograf) sependapat bahwa Erastothenes dianggap sebagai
peletak dasar pengetahuan geografi.
Pada awal abad ke-2, muncul tokoh baru yaitu Claudius Ptolomaeus mengatakan bahwa geografi adalah suatu penyajian melalui peta dari sebagian dan seluruh permukaan bumi. Jadi Claudius Ptolomaeus mementingkan peta untuk memberikan informasi tentang permukaan bumi secara umum. Kumpulan dari peta Claudius Ptolomaeus dibukukan, diberi nama ‘Atlas Ptolomaeus’.
Menjelang akhir abad ke-18, perkembangan geografi semakin pesat. Pada masa ini berkembang aliran fisis determinis dengan tokohnya yaitu seorang geograf terkenal dari USA yaitu Ellsworth Hunthington. Di Perancis faham posibilis terkenal dengan tokoh geografnya yaitu Paul Vidal de la Blache, sumbangannya yang terkenal adalah “Gen re de vie”. Perbedaan kedua faham tersebut, kalau fisis determinis memandang manusia sebagai figur yang pasif sehingga hidupnya dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Sedangkan posibilisme memandang manusia sebagai makhluk yang aktif, yang dapat membudidayakan alam untuk menunjang hidupnya.
Setiap manusia memiliki pendapat masing-masing tentang berbagai hal dalam kehidupannya. Demikian pula dengan definisi atau pengertian geografi. Berikut ini disajikan beberapa definisi yang akan saling melengkapi dan dengan demikian diharapkan dapat menyingkap inti masalah atau pokok kajian geografi.
Definisi 1: Preston e James berpendapat bahwa, “Geografi dapat diungkapkan sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan” karena banyak bidang ilmu pengetahuan selalu mulai dari keadaan muka bumi untuk beralih pada studinya masing-masing.
Definisi 2: “Geografi adalah interaksi antar ruang”. Definisi ini dikemukakan oleh Ullman (1954), dalam bukunya yang berjudul Geography a Spatial Interaction.
Definisi 3: Objek study geografi adalah kelompok manusia dan organisasinya di muka bumi. Definisi ini dikemukakan oleh Maurice Le Lannou (1959). Ia mengemukakan dalam bukunya yang berjudul La Geographie Humaine.
Definisi 4: Paul Claval (1976) berpendapat bahwa ‘Geografi selalu ingin menjelaskan gejala gejala dari segi hubungan keruangan’.
Definisi 5: Suatu definisi yang lain adalah hasil semlok (seminar dan lokakarya) di Semarang tahun 1988. Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan kelingkungan dalam konteks keruangan.
Kalau kita perhatikan beberapa definisi/pengertian dan sejarah perkembangan dari geografi tersebut, ternyata pengertian geografi selalu mengalami perkembangan. Namun kalau kita kaji lebih jauh, di antara pandangan para ahli tersebut tampak ada kesamaan titik pandang. Kesamaan titik pandang tersebut adalah mengkaji:
1. bumi sebagai tempat tinggal;
2. hubungan manusia dengan lingkungannya (interaksi);
3. dimensi ruang dan dimensi historis; dan
4. pendekatannya, spasial (keruangan), ekologi (kelingkungan) dan regional (kewilayahan).
Pada awal abad ke-2, muncul tokoh baru yaitu Claudius Ptolomaeus mengatakan bahwa geografi adalah suatu penyajian melalui peta dari sebagian dan seluruh permukaan bumi. Jadi Claudius Ptolomaeus mementingkan peta untuk memberikan informasi tentang permukaan bumi secara umum. Kumpulan dari peta Claudius Ptolomaeus dibukukan, diberi nama ‘Atlas Ptolomaeus’.
Menjelang akhir abad ke-18, perkembangan geografi semakin pesat. Pada masa ini berkembang aliran fisis determinis dengan tokohnya yaitu seorang geograf terkenal dari USA yaitu Ellsworth Hunthington. Di Perancis faham posibilis terkenal dengan tokoh geografnya yaitu Paul Vidal de la Blache, sumbangannya yang terkenal adalah “Gen re de vie”. Perbedaan kedua faham tersebut, kalau fisis determinis memandang manusia sebagai figur yang pasif sehingga hidupnya dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Sedangkan posibilisme memandang manusia sebagai makhluk yang aktif, yang dapat membudidayakan alam untuk menunjang hidupnya.
Setiap manusia memiliki pendapat masing-masing tentang berbagai hal dalam kehidupannya. Demikian pula dengan definisi atau pengertian geografi. Berikut ini disajikan beberapa definisi yang akan saling melengkapi dan dengan demikian diharapkan dapat menyingkap inti masalah atau pokok kajian geografi.
Definisi 1: Preston e James berpendapat bahwa, “Geografi dapat diungkapkan sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan” karena banyak bidang ilmu pengetahuan selalu mulai dari keadaan muka bumi untuk beralih pada studinya masing-masing.
Definisi 2: “Geografi adalah interaksi antar ruang”. Definisi ini dikemukakan oleh Ullman (1954), dalam bukunya yang berjudul Geography a Spatial Interaction.
Definisi 3: Objek study geografi adalah kelompok manusia dan organisasinya di muka bumi. Definisi ini dikemukakan oleh Maurice Le Lannou (1959). Ia mengemukakan dalam bukunya yang berjudul La Geographie Humaine.
Definisi 4: Paul Claval (1976) berpendapat bahwa ‘Geografi selalu ingin menjelaskan gejala gejala dari segi hubungan keruangan’.
Definisi 5: Suatu definisi yang lain adalah hasil semlok (seminar dan lokakarya) di Semarang tahun 1988. Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan kelingkungan dalam konteks keruangan.
Kalau kita perhatikan beberapa definisi/pengertian dan sejarah perkembangan dari geografi tersebut, ternyata pengertian geografi selalu mengalami perkembangan. Namun kalau kita kaji lebih jauh, di antara pandangan para ahli tersebut tampak ada kesamaan titik pandang. Kesamaan titik pandang tersebut adalah mengkaji:
1. bumi sebagai tempat tinggal;
2. hubungan manusia dengan lingkungannya (interaksi);
3. dimensi ruang dan dimensi historis; dan
4. pendekatannya, spasial (keruangan), ekologi (kelingkungan) dan regional (kewilayahan).
Bencana alam didefinisikan sebagai bencana
yang menimpa manusia murni karena proses alam. Definisi ini mengisyaratkan ada
bencana karena aktifitas manusia dan ada pula bencana alam yang dipicu atau
diperhebat oleh aktifitas manusia. pada kesempatan ini kita hanya
membicarakan bencana yang murni karena proses alam.
Proses alam dapat terjadi di geosfer
atau lithosfer, hidrosfer atau di air atau di laut, dan atmosfer atau di udara.
Proses alam yang terjadi di tiga domain itu dapat saling berkaitan satu sama
lain. Dengan demikian, bencana alam yang terjadi di suatu kawasan, termasuk di
Indonesia, sangat ditentukan oleh kondisi geologi, oseanografi dan meteorologi
kawasan atau daerah tersebut.
Meskipun kita dapat membedakan
adanya geosfer, hidrosfer dan atmosfer, namun proses yang terjadi sering sangat
berkaitan satu sama lain dan kadang tidak dapat berdiri sendiri.
Bencana
terkait Kondisi atau Proses Geologi
Berikut ini kita meninjau bencana
alam yang proses utamanya adalah proses geologi. Proses geologi dapat
dibedakan menjadi proses-proses endogen (yang bekerja di dalam Bumi) dan
proses-proses eksogen (yang bekerja di permukaan Bumi).
Proses
endogen terdiri
dari:
- Gerak Tektonik – menyebabkan gempa. Gempa
dapat mengebabkan terjadinya patahan di kerak bumi. Guncangan gempa dapat
mencetuskan Longsor atau Gerakan Tanah seperti yang terjadi di
Padang Pariaman. Adapun patahan yang terjadi di dasar laut dapat memicu
terjadinya Tsunami (proses terjadi di laut atau hidrosfer), seperti
yang terjadi ketika gempa 26 Desember 2004 di Samudera Hindia. Sementara
itu, longsor yang terjadi di palung-palung laut dalam juga dapat
menimbulkan Tsunami.
- Magmatisme – menimbulkan gunungapi –
menyebabkan letusan gunungapi yang menimbulkan aliran Awan Panas
atau Lahar Panas bila ada danau kawah yang ikut jebol. Kemudian,
endapan pasir di lereng gunungapi bila terkena hujan lebat (proses
atmosfer) dapat menimbulkan aliran Lahar, baik lahar panas maupun
lahar dingin. Contohnya seperti yang terjadi Gunung
MerapiYoguyakarta.
Proses
eksogen terdiri
dari:
- Pelapukan batuan – menyebabkan gerakan tanah
atau longsor. Longsong yang terjadi pada batuan yang lapuk dapat
terjadi karena dipicu oleh guncangan gempa (proses endogen), atau
oleh curah hujan (proses di atmosfer) yang tinggi.
- Banjir – terjadi karena curah hujan
yang tinggi. Aliran air yang terjadi dapat menimbulkan erosi di
tebing-tebing sungai. Muatan sedimen yang masuk ke laut karena aliran
sungai akan menimbulkan sedimentasi di laut.
Bencana
terkait Proses di Atmosfer
Berikut ini adalah bencana yang
terjadi dengan proses-proses di atmosfer sebagai proses utama.
- Angin – terjadi karena proses-proses
yang terjadi di atmosfer. Tiupan angin terjadi karena perbedaan tekanan
udara. Di Indonesia, pola angin musiman secara umum dipengaruhi oleh
perbedaan tekanan udara di Benua Asia dan Benua Australia (Kepulauan
Indonesia terletak di antara kedua benua itu). Kita mengenal adanya Musim
Angin Barat dan Musim Angin Timur. Untuk daerah pesisir, daerah yang
terbuka dari arah barat akan terkena pukulan gelombang yang timbul karena
angin barat; sedang untuk daerah pesisir yang terbuka dari arah timur akan
terkena pukulan gelombang yang timbul karena angin yang bertiup
dari arah timur. Di daerah-daerah tertentu, karena kondisi morfologi
daratannya yang bergunung-gunung, dapat terjadi tiupan angin lokal yang
merusak. Kita di Kepulauan Indonesia tidak mengalami Badai Tropis.
Tetapi, badai yang terjadi di Samudera Hindia dapat menimbulkan gelombang
tinggi di pantai-pantai dari pulau-pulau di Kepulauan Indonesia yang
menghadap ke Samudera Hindia. Pukulan gelombang di pantai dapat
menyebabkan erosi pantai.
- Kekeringan (dan Banjir) – terjadi
di Indonesia berkaitan dengan perubahan musim angin yang berkaitan dengan
posisi Kepulauan Indonesia yang diapit oleh dua benua itu. Atau karena pengaruh
dari proses atmosfer yang terjadi di Samudera Pasifik (El Nino atau La
Nina). Karena pengaruh proses Samudera Pasifik, musim kering dapat
berlangsung lebih panjang durasinya, musim hujan datang terlambat, atau
curah hujan sangat tinggi. Kekeringan dapat menimbulkan kebakaran hutan
(seperti terjadi di Sumatera dan Kalimantan) atau kelaparan
(atau kekurangan stok pangan nasional) karena kehabisan bahan pangan.
Demikian gambaran tentang berbgai
bencana alam yang dapat terjadi di Kepulauan Indonesia.
Dengan memahami bagaimana suatu
bencana alam dapat terjadi dan faktor-faktor yang mencetuskan atau mempengaruhi
kejadiannya, maka kita dapat memperkirakan tempat kejadian atau yang akan
terlanda bencana, dan waktu kedatangan atau kejadian suatu bencana.
Khusus untuk gempa, memang kita
belum dapat memperkirakan waktu kejadiannya, tetapi kita dapat menentukan
daerah-daerah yang berbahaya bila terjadi gempa.
Berbeda dari sikus batuan yang
terutama merupakan fenomena yang terjadi di kerak benua, maka siklus tektonik
terutama melibatkan kerak samudera, dan prosesnya didominasi oleh proses-proses
di bagian dalam Bumi yang digerakkan oleh energi geotermal Bumi.
Gambaran siklus tektonik dapat
dilihat pada Gambar 6A dan B. Ketika magma yang datang dari mantle muncul di
tempat pemekaran lantai samudera, maka ditempat itu akan terbentuk kerak
samudera baru. Kerak samudera yang tua akan kembali ke dalam mantle di zona
penunjaman. Dengan demikian, masa hidup kerak samudera lebih pendek daripada
masa hidup kerak benua.
Gambar 6A. Siklus tektonik. Kontak
antara magma dengan air laut di zona pemekaran samudera menunjukkan interaksi
antara geosfer dan hidrosfer yang mempengaruhi komposisi air laut, sementara
itu volkanisme menunjukkan kontak antara geosfer dan atmosfer yang mempengaruhi
komposisi udara. Sumber: Skinner dan Porter (2000).
Gambar 6B. Siklus tektonik.
Menggambarkan aliran proses dan pergerakan material. Sumber: Skinner dan Porter
(2000).
Fenomena volkanisme dapat terjadi
berkaitan dengan mekanisme penunjaman. Ketika kerak samudera masuk kembali ke
dalam mantel dan meleleh kembali, unsur-unsur volatil dari kerak samudera itu
menyebabkan kerak benua di atasnya meleleh. Magma yang terbentuk muncul ke
permukaan sebagai gunungapi. Dengan demikian terjadi penambahan material baru
ke kerak benua. Di pihak lain, aktifitas gunungapi yang mengeluarkan debu dan
gas dari dalam Bumi mempengaruhi komposisi udara. Kondisi ini menunjukkan
interaksi antara geosfer dan atmosfer.
Selain di zona penunjaman, magma
dapat muncul di daerah pemekar lantai samudera. Di daerah pemekaran lantai
samudera, interaksi antara kerak samudera dengan samudera di atasnya
mempengaruhi komposisi air laut disekitarnya. Magma yang muncul di zona
pemekaran dan membentuk kerak samudera baru membentuk batuan beku yang panas
dan bereaksi dengan air laut. Unsur-unsur dari dalam batuan yang panas bereaksi
dengan unsur-unsur yang ada di dalam air laut. Ini adalah salah satu cara
mantle mempengaruhi komposisi air laut, dan juga cara yang penting bagaimana
material dan proses dari siklus tektonik berinteraksi dengan siklus hidrologi.
Siklus batuan menggambarkan seluruh
proses yang dengannya batuan dibentuk, dimodifikasi, ditransportasikan,
mengalami dekomposisi, dan dibentuk kembali sebagai hasil dari proses internal
dan eksternal Bumi. Siklus batuan ini berjalan secara kontinyu dan tidak pernah
berakhir. Siklus ini adalah fenomena yang terjadi di kerak benua (geosfer) yang
berinteraksi dengan atmosfer, hidrosfer, dan biosfer dan digerakkan oleh energi
panas internal Bumi dan energi panas yang datang dari Matahari.
Kerak bumi yang tersingkap ke udara
akan mengalami pelapukan dan mengalami transformasi menjadi regolit melalui
proses yang melibatkan atmosfer, hidrosfer dan biosfer. Selanjutnya, proses
erosi mentansportasikan regolit dan kemudian mengendapkannya sebagai sedimen.
Setelah mengalami deposisi, sedimen tertimbun dan mengalami kompaksi dan
kemudian menjadi batuan sedimen. Kemudian, proses-proses tektonik yang
menggerakkan lempeng dan pengangkatan kerak Bumi menyebabkan batuan sedimen
mengalami deformasi. Penimbunan yang lebih dalam membuat batuan sedimen menjadi
batuan metamorik, dan penimbunan yang lebih dalam lagi membuat batuan
metamorfik meleleh membentuk magma yang dari magma ini kemudian terbentuk batuan
beku yang baru. Pada berbagai tahap siklus batuan ini, tektonik dapat
mengangkat kerak bumi dan menyingkapkan batuan sehingga batuan tersebut
mengalami pelapukan dan erosi. Dengan demikian, siklus batuan ini akan terus
berlanjut tanpa henti (Gambar 5).
Gambar 5. Siklus batuan.
Menggambarkan proses yang menyebabkan batuan berubah dari satu bentuk ke bentuk
yang lain dan ditransportasikan. Sumber: Skinner dan Porter (2000)
Konsep sistem[1]
adalah suatu cara untuk menguraikan suatu masalah yang besar dan rumit menjadi
masalah-masalah yang lebih kecil dan lebih mudah dipelajari. Sistem dapat
dikatakan sebagai suatu bagian dari alam universal yang dapat diisolasi dari
bagian alam universal yang lain untuk keperluan observasi dan mengukur
perubahan. Dengan mengatakan bahwa sistem adalah bagian dari alam yang
universal, maka berarti dapat didefinisikan sesuai dengan kehendak si pengamat.
Kita dapat memilih batasan-batasan sistem sesuai dengan kemudahan penelitian
kita. Dengan demikian, sistem bisa kecil dan bisa pula besar, bisa sederhana
dan bisa bula kompleks atau rumit.
Selanjutnya, mengatakan bahwa suatu
sistem terisolasi dari alam universal di sekitarnya berarti bahwa suatu sistem
harus mempunyai batas yang memisahkannya dari sekelilingnya. Berdasarkan
kondisi batasnya, sistem dapat dibedakan menjadi tiga (Gambar 1):
1) Sistem terisolasi yaitu sistem dengan batas yang
mengisolasi sistem dari lingkungan sekitarnya sehingga tidak dapat terjadi
pertukaran energi atau materi antara sistem itu dengan lingkungannya. Di dalam
dunia nyata sistem jenis ini tidak ada, karena tidak ada batas yang benar-benar
dapat mengisolasi secara sempurna sehingga energi tidak dapat masuk ataupun
lepas.
2) Sistem tertutup yaitu sistem dengan batas yang
memungkinkan untuk terjadinya pertukaran energi, tetapi tidak memungkinkan
pertukaran materi antara sistem dengan lingkungannya. Bumi adalah contoh alam
dari sistem tertutup ini.
3) Sistem terbuka yaitu sistem dengan batas yang
memungkinkan terjadinya pertukaran energi dan materi melintasi batas.
Sub-sistem Bumi merupakan contoh alam dari sistem terbuka ini.
Gambar 1. Gambaran macam-macam
sistem. Sumber: Skinner dan Porter (2000), Gambar 1.17.
Dengan beberapa pengecualian yang
sangat terbatas, dapat dikatakan bahwa Sistem Bumi adalah sistem tertutup.
Energi dapat masuk dan meninggalkan Bumi. Massa Bumi hampir konstan.
Pengecualian terjadi pada sejumlah kecil meteorit yang sampai ke Bumi dari ruang
angkasa dan sejumlah kecil gas yang lepas dari atmosfer ke ruang angkasa.
Sebagai suatu sistem, Bumi memiliki
empat reservoir raksasa yang menampung materi, dan setiap reservoir itu adalah
suatu sistem terbuka karena baik materi maupun energi dari setiap reservoir itu
dapat masuk dan keluar. Ke-empat reservoir Bumi itu yang merupakan sustu
sub-sistem Bumi adalah:
1) Atmosfer, yaitu campuran gas yang mengelilingi
Bumi. Gas-gas yang dominan adalah nitrogen, oksigen, argon, karbon dioksida,
dan uap air.
2) Hidrosfer, yaitu seluruh air yang ada di Bumi,
meliputi samudera, danau, sungai, air bawah tanah, dan seluruh salju dan es,
dengan pengecualian uap air di dalam atmosfer.
3) Biosfer, yaitu seluruh organisme yang ada di Bumi,
termasuk juga berbagai material organik yang belum mengalami dekomposisi.
4) Geosfer, yaitu bagian Bumi yang padat, dan
terutama tersusun oleh batuan dan regolit (partikel-partikel batuan lepas yang
menutupi bagian Bumi yang padat).
Model dari Sistem Bumi dapat dilihat
pada Gambar 2. Pada gambar tersebut terlihat bahwa Bumi sebagai suatu benda
langit yang merupakan salah satu anggota dari Sistem Tata Surya merupakan suatu
sistem tertutup. Bumi menerima pancaran radiasi gelombang pendek dari Matahari
dan kembali memancarkan radiasi gelombang panjang ke ruang angkasa. Sementara
itu, sub-sistem Bumi merupakan sistem terbuka yang diantara sesamanya dapat
terjadi pertukaran energi dan materi.
Gambar 2. Model Sistem Bumi. Bumi
sebagai benda angkasa merupakan sistem tertutup, sedang sub-sistem Bumi yang
terdiri dari atmosfer, hidrosfer, biosfer dan geosfer merupakan sistem terbuka.
Sumber: Skinner dan Porter (2000), Gambar 1.19.
Komponen fisik dari Sistem Bumi
terdiri dari sub-sistem Daratan (Geosfer), Lautan/Air (Hidrosfer), dan Udara
(Atmosfer). Setiap komponen tersebut berinteraksi satu sama lain sehingga di
dalam Sistem Bumi terdapat interaksi Daratan-Lautan, Daratan-Udara, dan
Lautan-Udara. Secara visual, kondisi keberadaan dari ketiga komponen Sistem
Bumi itu dan interaksinya dapat digambarkan sebagai model seperti Gambar 3.
Semuanya terintegrasi dalam Ruang dan Waktu.
Gambar 3. Model Sistem Bumi yang
memperlihatkan hubungan dan interaksi di antara sub-sistem fisik. Sumber:
Global Change News Letter no. 68, Feb. 2007.
Mungkin tidak banyak diantara kita yang mengetahui bahwa
pada tahun 2008 yang lalu kontingen siswa SMA dari Indonesia berhasil meraih
medali perunggu dalam Olimpiade Ilmu Kebumian (1st
International Earth Science Olympiad – IESO 2007 ) di Seoul, Korea Selatan. Berbeda dengan Fiska, Kimia,
Biologi dan Matematika, di Indonesia Ilmu Kebumian belum dipandang sebagai ilmu
yang penting. Hal itu terbukti dengan tidak didukungnya pengiriman kontingen
pada tahun 2008 ini oleh Depdiknas. Pada hal, kita kan hidup di Bum. Persoalan
yang banyak kita hadapi sekarang sebagian besar berkaitan dengan Ilmu Kebumian,
mulai dari persoalan bencana alam sampai masalah energi dan kerusakan
lingkungan.
Ingat Tsunami, Banjir, Kekeringan, Gempa Bumi, Letusan
Gunungapi, Erosi Pantai, Tanah Longsong, Subsiden dan masalah energi panas bumi
yang belum banyak kita manfaatkan, energi gelombang, arus dan pasang-surut yang
terabaikan, hingga terakhir masalah Indonesia sampai keluar dari OPEC karena
tidak dapat lagi memproduksi minyak bumi melebihi kebutuhan. Termasuk juga
masalah Jalan Tol ke Bandara Sukarno-Hatta yang mengalami subsiden dan
kebanjiran. Itu semua berkaitan dengan Ilmu Kebumian.
Ketika dilakukan persiapan kontingan pada tahun 2007 yang
lalu, salah satu materinya adalah berkaitan dengan Sistem Bumi. Apa yang saya
sampaikan kali ini adalah materi pembekalan bagi kontingen Olimpiade Kebumian
Pertama Tahun 2007 tersebut.
Dengan memahami Bumi sebagai suatu sistem, selain mendapat
manfaat yang berkaitan dengan persoalan sumberdaya dan sumber bencana, kita juga
akan mendapat pemahaman bagaimana Bumi yang merupakan bagian dari alam semesta
ini dihidupkan.
Sekarang, para ilmuwan cenderung mempelajari Bumi dengan
pendekatan yang menyeluruh atau holistik. Pendekatan yang holistik ini
memandang Bumi sebagai suatu sistem alam yang terdiri dari Geosfer, Hidrosfer,
Atmosfer dan Biosfer. Manusia termasuk bagian yang integral dari Sistem Bumi.
Pendekatan ini di dasarkan pada kombinasi kedalaman pengetahuan dan pengamatan
yang luas meliputi banyak hal (komprehensif), dan mengarahkan kita pada solusi
masalah-masalah lingkungan yang dihadapi Bumi.
Disiplin ilmu yang mempelajari
Sistem Bumi adalah Earth Sciences (Ilmu Kebumian). Disiplin ini memiliki
berbagai aspek lingkungan yang luas, seperti:
1) Saling mempengaruhi di antara dua sistem alam (tidak
termasuk manusia).
2) Pengaruh intervensi manusia terhadap alam seperti merubah
komposisi atmosfer yang menyebabkan polusi udara, pemakaian sumber alam yang
berlebihan atau intervensi terhadap proses pantai yang menyebabkan terjadinya
perubahan keseimbangan.
3) Kemampuan melakukan peramalan terhadap kejadian berbagai
fenomena alam seperti banjir, badai, gempa bumi, erupsi gunungapi, dan gerakan
tanah..
4) Mempergunakan lingkungan fisik untuk memproduksi energi
dari berbagai sumber konvensional seperti bahan bakar fosil dan material
organik, dan sumber-sumber energi alternatif seperti energi matahari, angin,
gelombang, arus, nuklir dan kimia.
5) Pengembangan berbagai sumberdaya alam secara
berkelanjutan.
6) Perubahan iklim global.
Selanjutnya, pengembangan
pengetahuan yang dalam (insight) tentang lingkungan memerlukan tiga
pemahaman utama, yaitu:
1) Kita hidup di dalam suatu dunia yang bersiklus yang
tersusun dari berbagai sub-sistem (Geosfer, Hidrosfer, Atmosfer dan Biosfer)
yang hadir bersama sebagai hasil dari pergerakan material dan energi yang
melaluinya.
2) Manusia adalah bagian yang integral dari sistem alam dan
dengan demikian harus bertindak mengikuti hukum alam yang bersiklus.
”Sesungguhnya
Kami telah menempatkan kamu di muka bumi dan kami sediakan bagimu di muka bumi
(sumber) penghidupan. Amat sedikit kamu yang bersyukur” (Al-A’raf :10 )
Geosfer atau bumi yang padat adalah
bagian atau tempat dimana manusia hidup dan mendapatkan makanan,
mineral-mineral, dan bahan-bahan yang dikenal sumber daya alam. Diperkirakan
geosfer mempunyai kapasitas penyangga yang tidak terbatas terhadap gangguan
manusia. Tetapi sekarang diketahui cukup ringkih dan dapt rusak karena
aktivitas manusia. Sebagi contoh penambangan milyaran ton mineral bumi.
Fenomena atmosfer yang berpotensi menyebabkan perubahan
besar pada geosfer adalah konsentrasi CO2 di udara yang berlebih dan
hujan asam. Kelebihan CO2 dapat menyebabkan pemanasan global yang
selanjutnya dapat merubah pola curah hujan secara signifikan dan merubah daerah
produktif di bumi menjadi daerah gurun. Kadar curah hujan (kadar konsentrasi
air dalam tanah) mem-pengaruhi terhadap kesuburan tanah atau produktifitas
tanah, Allah dalam Al-Quran telah menyatakan bahwa untuk menghidupkan tanah
yang mati (gersang/tidak subur) adalah dengan air (air hujan) :
... وما
انزل الله من السماء من ماء فأحيابه الارض بعد موتها وبث فيها من كل دابة ...
(النحل :۱۰)
“… Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air,
lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering)-nya dan Dia
sebarkan di bumi itu segala jenis hewan ...” (An-Nahl : 10)
Iklim dapat dipengaruhi oleh
aktivitas manusia dan makhluk lainnya di permukaan bumi. Pengaruh secara
langsung adalah melalui perubahan albedo, yang didefinisikan sebagai persentase
direfleksikanya radiasi sinar matahari oleh permukaan air.
PH rendah yang menjadi ciri hujan
asam dapat menyebabkan perubahan yang drastis dalam gaya larut kecepatan
oksidasi-reduksi mineral. Erosi disebabkan oleh penanaman secara intensif pada
tanah yang dapat menyebabkan pencucian lapisan atas tanah secara berlebihan
pada tanah pertanian yang subur setiap tahunnya.
Salah satu pengaruh terbesar dari
manusia terhadap geosfer adalah terjadinya daerah gurun karena penyalah gunaan
lahan dengan curah hujan yang kecil. Proses perubahan suatu daerah menjadi
gurun terjadi karena menurunnya kadar air tanah, salinasi lapisan atas tanah
dan air, berkurangnya permukaan air, erosi tanah yang tinggi dan perusakan
vegetasi asli.
ILMU TANAH
ILMU TANAH
Pada saat ini banyak macam usaha
pengelolaan tanah masam yang dapat di-temukan di berbagai tempat, di mana
masing-masing cara berkembang sesuai dengan kemampuan dan kondisi setempat.
Upaya-upaya pengelolaan tanah ditujukan untuk menangani masalah-masalah yang
berkaitan dengan keberlanjutan suatu sistem usahatani, yaitu mempertahankan
produksi tanaman dari waktu kewaktu, mengontrol erosi dan mengatasi serangan
hama, penyakit dan gulma
Pada prinsipnya ada tiga kelompok cara penanganan masalah tanah masam yang berhubungan dengan pengelolaan kesuburan tanah, yaitu cara kimia, cara fisik-mekanik dan cara biologi. ketiga cara tersebut seringkali diterapkan secara bersama-sama.
1. Cara kimia
Cara kimia merupakan salah satu upaya pemecahan masalah kesuburan tanah dengan menggunakan bahan-bahan kimia buatan. Beberapa upaya yang sudah dikenal adalah pengapuran, pemupukan, dan penyemprotan herbisida.
A. Pengapuran
Pengapuran merupakan upaya pemberian bahan kapur ke dalam tanah masam dengan tujuan untuk menaikkan pH tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK), dan menetralisir Al yang meracuni tanaman. Pemberian kapur seperti ini memerlukan pertimbangan yang seksama mengingat pemberian Ca dan Mg akan mengganggu keseimbangan unsur hara yang lain.
B. Pemupukan dengan penambahan unsur hara
Pemupukan merupakan jalan termudah dan tercepat dalam menangani masalah kahat hara, namun bila kurang memperhatikan kaidah-kaidah pemupukan, pupuk yang diberikan juga akan hilang percuma.
Pada saat ini sudah diketahui secara luas bahwa tanah-tanah pertanian di Indonesia terutama tanah masam kahat unsur nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Oleh karena itu petani biasanya memberikan pupuk N, P, K secara sendiri-sendiri atau kombinasi dari ketiganya. Pupuk N mudah teroksidasi, sehingga cepat menguap atau tercuci sebelum tanaman menyerap seluruhnya. Pupuk P diperlukan dalam jumlah banyak karena selain untuk memenuhi kebutuhan tanaman juga untuk menutup kompleks pertukaran mineral tanah agar selalu dapat tersedia dalam larutan tanah.
Beberapa kelemahan dari pengelolaan tanah secara kimia adalah Pemupukan membutuhkan biaya tinggi karena harga pupuk mahal, Penggunaan pupuk tidak dapat menyelesaikan masalah kerusakan fisik dan biologi tanah, bahkan cenderung mengasamkan tanah, dan Pemupukan yang tidak tepat dan berlebihan menyebabkan pencemaran lingkungan.
2. Cara fisik – mekanik
Penanganan secara fisik dan mekanik terutama ditujukan untuk perbaikan media pertumbuhan perakaran, penanggulangan gulma dan usaha penekanan erosi. Hambatan kedalaman perakaran yang disebabkan oleh adanya lapisan keras dari kerikil (krokos = laterit) mungkin dapat diatasi dengan pembongkaran secara mekanik dengan mengolah tanah dalam (deep plowing) misalnya denganmenggunakan gancu untuk menghancurkan bongkahan laterit tersebut.
Perbaikan media tumbuh tanaman melalui pengolahan tanah dapat memperbaiki pertumbuhan akar tanaman sehingga dapat mengurangi jumlah unsur hara yang hilang karena pencucian.
Pengolahan tanah dapat membantu menggemburkan tanah sehingga memperbaiki perkembangan akar tanaman dan mempercepat proses dekomposisi bahan organik tanah dan mineralisasi hara sehingga memperbaiki pertumbuhan tanaman untuk beberapa tahun.
Pengelolaan dengan cara fisik-mekanik ini juga memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan, di antaranya adalah Pengelolaan secara fisik-mekanik biasanya memerlukan tenaga dalam jumlah banyak dan waktu yang lama, tidak dapat mengatasi masalah kekurangan bahan organik tanah karena jumlah biomas yang diangkut keluar petak lahan melalui panen sangat banyak sementara jumlah yang dikembalikan sangat sedikit.
3. Cara biologi
Prinsip-prinsip pengelolaan kesuburan tanah secara biologi dikembangkan dari hasil pengalaman yang diperoleh dari sistem hutan alami di mana vegetasi dapat tumbuh subur tanpa tambahan unsur hara dari luar. Hal ini membuktikan bahwa pepohonan berperan penting dalam pemeliharaan kesuburan tanah.
Sistem hutan alam memiliki siklus hara yang tertutup, di mana hara yang dipergunakan untuk pertumbuhan pohon diambil dari tanah dan pohon juga akan mengembalikan sebagian hara tersebut ke dalam tanah melalui daun, ranting dan cabang yang gugur. Kenyataan yang terpenting pada kondisi hutan ini adalah bahwa jumlah kehilangan hara melalui pencucian, erosi atau aliran permukaan sangat kecil. Oleh karena itu konsep pengelolaan tanah secara biologi adalah meniru sistem tertutup yang dijumpai di hutan.
Pada prinsipnya ada tiga kelompok cara penanganan masalah tanah masam yang berhubungan dengan pengelolaan kesuburan tanah, yaitu cara kimia, cara fisik-mekanik dan cara biologi. ketiga cara tersebut seringkali diterapkan secara bersama-sama.
1. Cara kimia
Cara kimia merupakan salah satu upaya pemecahan masalah kesuburan tanah dengan menggunakan bahan-bahan kimia buatan. Beberapa upaya yang sudah dikenal adalah pengapuran, pemupukan, dan penyemprotan herbisida.
A. Pengapuran
Pengapuran merupakan upaya pemberian bahan kapur ke dalam tanah masam dengan tujuan untuk menaikkan pH tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK), dan menetralisir Al yang meracuni tanaman. Pemberian kapur seperti ini memerlukan pertimbangan yang seksama mengingat pemberian Ca dan Mg akan mengganggu keseimbangan unsur hara yang lain.
B. Pemupukan dengan penambahan unsur hara
Pemupukan merupakan jalan termudah dan tercepat dalam menangani masalah kahat hara, namun bila kurang memperhatikan kaidah-kaidah pemupukan, pupuk yang diberikan juga akan hilang percuma.
Pada saat ini sudah diketahui secara luas bahwa tanah-tanah pertanian di Indonesia terutama tanah masam kahat unsur nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Oleh karena itu petani biasanya memberikan pupuk N, P, K secara sendiri-sendiri atau kombinasi dari ketiganya. Pupuk N mudah teroksidasi, sehingga cepat menguap atau tercuci sebelum tanaman menyerap seluruhnya. Pupuk P diperlukan dalam jumlah banyak karena selain untuk memenuhi kebutuhan tanaman juga untuk menutup kompleks pertukaran mineral tanah agar selalu dapat tersedia dalam larutan tanah.
Beberapa kelemahan dari pengelolaan tanah secara kimia adalah Pemupukan membutuhkan biaya tinggi karena harga pupuk mahal, Penggunaan pupuk tidak dapat menyelesaikan masalah kerusakan fisik dan biologi tanah, bahkan cenderung mengasamkan tanah, dan Pemupukan yang tidak tepat dan berlebihan menyebabkan pencemaran lingkungan.
2. Cara fisik – mekanik
Penanganan secara fisik dan mekanik terutama ditujukan untuk perbaikan media pertumbuhan perakaran, penanggulangan gulma dan usaha penekanan erosi. Hambatan kedalaman perakaran yang disebabkan oleh adanya lapisan keras dari kerikil (krokos = laterit) mungkin dapat diatasi dengan pembongkaran secara mekanik dengan mengolah tanah dalam (deep plowing) misalnya denganmenggunakan gancu untuk menghancurkan bongkahan laterit tersebut.
Perbaikan media tumbuh tanaman melalui pengolahan tanah dapat memperbaiki pertumbuhan akar tanaman sehingga dapat mengurangi jumlah unsur hara yang hilang karena pencucian.
Pengolahan tanah dapat membantu menggemburkan tanah sehingga memperbaiki perkembangan akar tanaman dan mempercepat proses dekomposisi bahan organik tanah dan mineralisasi hara sehingga memperbaiki pertumbuhan tanaman untuk beberapa tahun.
Pengelolaan dengan cara fisik-mekanik ini juga memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan, di antaranya adalah Pengelolaan secara fisik-mekanik biasanya memerlukan tenaga dalam jumlah banyak dan waktu yang lama, tidak dapat mengatasi masalah kekurangan bahan organik tanah karena jumlah biomas yang diangkut keluar petak lahan melalui panen sangat banyak sementara jumlah yang dikembalikan sangat sedikit.
3. Cara biologi
Prinsip-prinsip pengelolaan kesuburan tanah secara biologi dikembangkan dari hasil pengalaman yang diperoleh dari sistem hutan alami di mana vegetasi dapat tumbuh subur tanpa tambahan unsur hara dari luar. Hal ini membuktikan bahwa pepohonan berperan penting dalam pemeliharaan kesuburan tanah.
Sistem hutan alam memiliki siklus hara yang tertutup, di mana hara yang dipergunakan untuk pertumbuhan pohon diambil dari tanah dan pohon juga akan mengembalikan sebagian hara tersebut ke dalam tanah melalui daun, ranting dan cabang yang gugur. Kenyataan yang terpenting pada kondisi hutan ini adalah bahwa jumlah kehilangan hara melalui pencucian, erosi atau aliran permukaan sangat kecil. Oleh karena itu konsep pengelolaan tanah secara biologi adalah meniru sistem tertutup yang dijumpai di hutan.
Jumlah penduduk Indonesia
terus meningkat, sehingga kebutuhan pangan terus bertambah. Sedangkan luas
lahan produktif relatif tetap atau bahkan menyusut. Lahan-lahan yang bagus di
Jawa dialihfungsikan menjadi pemukiman atau kawasan industri. Peningkatan
produksi dapat dilakukan melalui intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas
atau ekstensilikasi untuk mendapatkan lahan barn. Kunci utama dan kedua hal
tersebut adalah bagaimana memelihara atau meningkatkan status kesuburan
tanahnya.
Hubungan antara kesuburan tanah dengan keadaan lingkungan dapat digambarkan sebagai berikut : Hara dapat bergerak menuju badan air permukaan atau air dalam tanah. Hal ini disebabkan bentang lahan saling berhubungan, lahan pertanian tidak terpisah dan lingkungan di sekitarnya. Pengelolaan hara yang buruk, misalnya pemupukan yang berlebihan, pengelolaan rabuk yang sembarangan, akan menimbulkan pencemaran lingkungan.
Sementara itu agar kondisi tanah bisa dipertahankan, tanah pertanian harus selalu ditambah bahan organik minimal sebanyak 8 - 9 ton per 1 ha setiap tahunnya. Lalu dari mana dan bagaimana mendapatkan bahan organik untuk memenuhi kebutuhan tersebut? Berikut ini beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan bahan organik:
• Pengembalian sisa panen
Jumlah sisa panenan tanaman pangan yang dapat dikembalikan ke dalam tanah berkisar 2 - 5 ton ha-1, sehingga tidak dapat memenuhi jumlah kebutuhan bahan organik minimum. Oleh karena itu masukan bahan organik dari sumber lain tetap diperlukan.
• Pemberian kotoran hewan
Kotoran hewan atau pupuk kandang bisa berasal dari hewan peliharaan seperti sapi, kerbau, kambing dan ayam, atau juga bisa berasal dari hewan liar seperti kelelawar dan burung. Pengadaan atau penyediaan kotoran hewan seringkali sulit dilakukan karena memerlukan tenaga dan biaya transportasi yang banyak. Bahkan di beberapa daerah sulit didapatkan kotoran hewan karena jumlah hewan yang dipelihara oleh penduduk sangat sedikit.
• Pemberian pupuk hijau
Pupuk hijau bisa diperoleh dari serasah dan dari pangkasan tanaman penutup yang ditanam selama masa bera atau pepohonan dalam larikan sebagai tanaman pagar. Pangkasan tajuk tanaman penutup tanah dari keluarga kacang-kacangan (LCC = legume cover crops) dapat memberikan masukan bahan organik sebanyak 1.8 – 2.9 ton ha-1 (umur 3 bulan) dan 2.7– 5.9 ton ha-1 untuk yang berumur 6 bulan.
Konsep pembangunan berkelanjutan terus digalakkan agar kegiatan pertanian senantiasa menguntungkan, aman, lestari dan ramah lingkungan. Perlu penyusunan rekomendasi pemupukan terpadu yang bersifat spesifik lokasi disesuaikan dengan komoditas yang diusahakan dan lahan tempat usahanya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dan mengurangi dampak pencemaran terhadap lingkungan..
Beberapa alasan kenapa harus memupuk:
• Aplikasi pupuk terhadap hara yang diketahui menjadi faktor pembatas, akan meningkatkan hasil.
• Pengusahaan tanaman dengan hasil tinggi (high yielding), membutuhkan tanah yang subur secara berkesinambungan.
• Hara yang diserap oleh tanaman harus digantikan.
• Penggunaan pupuk yang tepat akan meningkatkan keuntungan ekonomi
Hubungan antara kesuburan tanah dengan keadaan lingkungan dapat digambarkan sebagai berikut : Hara dapat bergerak menuju badan air permukaan atau air dalam tanah. Hal ini disebabkan bentang lahan saling berhubungan, lahan pertanian tidak terpisah dan lingkungan di sekitarnya. Pengelolaan hara yang buruk, misalnya pemupukan yang berlebihan, pengelolaan rabuk yang sembarangan, akan menimbulkan pencemaran lingkungan.
Sementara itu agar kondisi tanah bisa dipertahankan, tanah pertanian harus selalu ditambah bahan organik minimal sebanyak 8 - 9 ton per 1 ha setiap tahunnya. Lalu dari mana dan bagaimana mendapatkan bahan organik untuk memenuhi kebutuhan tersebut? Berikut ini beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan bahan organik:
• Pengembalian sisa panen
Jumlah sisa panenan tanaman pangan yang dapat dikembalikan ke dalam tanah berkisar 2 - 5 ton ha-1, sehingga tidak dapat memenuhi jumlah kebutuhan bahan organik minimum. Oleh karena itu masukan bahan organik dari sumber lain tetap diperlukan.
• Pemberian kotoran hewan
Kotoran hewan atau pupuk kandang bisa berasal dari hewan peliharaan seperti sapi, kerbau, kambing dan ayam, atau juga bisa berasal dari hewan liar seperti kelelawar dan burung. Pengadaan atau penyediaan kotoran hewan seringkali sulit dilakukan karena memerlukan tenaga dan biaya transportasi yang banyak. Bahkan di beberapa daerah sulit didapatkan kotoran hewan karena jumlah hewan yang dipelihara oleh penduduk sangat sedikit.
• Pemberian pupuk hijau
Pupuk hijau bisa diperoleh dari serasah dan dari pangkasan tanaman penutup yang ditanam selama masa bera atau pepohonan dalam larikan sebagai tanaman pagar. Pangkasan tajuk tanaman penutup tanah dari keluarga kacang-kacangan (LCC = legume cover crops) dapat memberikan masukan bahan organik sebanyak 1.8 – 2.9 ton ha-1 (umur 3 bulan) dan 2.7– 5.9 ton ha-1 untuk yang berumur 6 bulan.
Konsep pembangunan berkelanjutan terus digalakkan agar kegiatan pertanian senantiasa menguntungkan, aman, lestari dan ramah lingkungan. Perlu penyusunan rekomendasi pemupukan terpadu yang bersifat spesifik lokasi disesuaikan dengan komoditas yang diusahakan dan lahan tempat usahanya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dan mengurangi dampak pencemaran terhadap lingkungan..
Beberapa alasan kenapa harus memupuk:
• Aplikasi pupuk terhadap hara yang diketahui menjadi faktor pembatas, akan meningkatkan hasil.
• Pengusahaan tanaman dengan hasil tinggi (high yielding), membutuhkan tanah yang subur secara berkesinambungan.
• Hara yang diserap oleh tanaman harus digantikan.
• Penggunaan pupuk yang tepat akan meningkatkan keuntungan ekonomi






Tidak ada komentar:
Posting Komentar