Saya bernama Tia Ardianti yang mendaftarkan diri masuk ke Institut
Agama Islam Darussalam mengambil jurusan PGMI mengikuti kedua orangtua saya
yang menjadi guru. IAID yang menurut saya menyeramkan ternyata cukup
mengasyikkan. Diawal saya datang ke kampus ini saya belum mengetahui banyak
hal. Karena saya belum menjelajahinya, bingung? tentu. Teman satu SMA pun tidak
ada yang masuk kesini. Disinilah saya mulai mencari pundi-pundi pertemanan
baru.
Saat testing penerimaan
mahasiswa baru saya masih bingung mencari dimana tempatnya. Saya berjalan
perlahan mencari namsaya yang tertempel rapat pada daftar mahasiswa tiap
kelasnya. Disana matsaya tertuju pada sosok wanita berjilbab merah muda,
sembari memakai baju longgar yang tak biasa saya lihat. Maklum saja di SMA saya
dulu tidak ada yang seperti ini. “Mungkin dia anak pesantren”. Gumam dalam
hati. Dan ternyata dia juga satu ruangan testing dengan saya. Anaknya cukup
pendiam, lumayan cantik dan kayanya pintar bahasa Arab. Panggil saja dia Lana.
Singkat cerita, pada saat testing ternyata ada juga soal-soal bahasa
Arab yang pastinya tidak saya mengerti. Cukup membuat saya mengerutkan dahi.
Keringat dingin mulai menghampiri dan seakan-akan seluruh badan terasa lemas
karena tidak bisa mengerjakannya. Tapi untungnya, Lana bersedia membantu. Saya
copy saja jawabannya, cukup membuat lega hati ini sembari tertawa melihat
kebodohan diri sendiri. Hahaha. Sudahlah itu hanya intermezo.
Beberapa hari kemudian saya dapati kabar kalau saya diterima di IAID.
Alhamdulillah lumayan senang, tapi perjuangan belum sampai disini. TAMADA
(Ta’aruf Mahasiswa Darussalam) masih menanti, dan akan dilaksanakan setelah
lebaran. Persiapan mulai dikumpulkan, hingga tibalah waktunya TAMADA. Untung
saja tidak terlalu repot membawa perlengkapan, yang penting fisik harus
disiapkan karena acara TAMADA ini akan berlangsung selama 4 hari 3 malam, “aduh
sungguh perjuangan dan belajar menjadi anak santri hehe”. Melihat teman-teman
memakai baju hitam putih sangat enak dilihat, rapi, sopan, pastinya
cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dilanjutkan dengan pembagian kelompok,
ternyata saya kelompok 2 terdiri dari 10 orang. Pada malam pertama, benar-benar
cukup menguras fisik. Sebenarnya tidak melsayakan hal-hal yang aneh, tapi
disini kita lebih difokuskan pada kedisiplinan dalam beribadah, seperti shalat
tahajud pukul 03.00 WIB, dilanjutkan mengaji dan kuliah subuh dengan mata merem
melek pun harus siap mengikutinya, baru diperbolehkan istirahat untuk mandi,
olahraga dan makan. Selanjutnya kita juga dituntut untuk mengikuti
materi-materi yang disampaikan oleh kakak senior maupun Dosen hingga Rektor.
Yang tiap harinya itu calon mahasiswa melangsungkan kegiatan hingga larut malam
yakni pukul 23.00 WIB. Waw, pengalaman baru yang melelahkan tapi membawa
manfaat. “Mungkin seperti ini kegiatan para santri di dalam”. Ujarku. Banyak yang merengek, dengan alasan
tidak betahlah, kangen mamahlah, capelah, bahkan mungkin ada yang tidak nyaman
tidurnya, termasuk saya sendiri juga merengek, tapi cukup dalam hati saja.
Teman-teman baru semua saya perhatikan, mulai dari kebiasaan, cara berpakaian,
hingga sopan santun perlahan saya ikuti.
Hari terus berlalu, hingga pada malam terakhir sebelum penutupan
TAMADA, akan diadakan hiburan dimana yang menghiburnya itu adalah perwakilan
dari tiap kelompok. Ya sudahlah saya bersedia menjadi perwakilannya. Mungkin
saya akan menyanyikan sebuah lagu dari Wali. Dan ternyata, kelompok saya
ditunjuk yang pertama untuk menghibur teman-teman semua. Cukup senang, meskipun
memalukan. Karena pada saat saya naik panggung dan akan menyanyikannya,
ternyata bapak dosen yang akan mengiringi instrumen tidak tahu lagu wali yang
akan saya nyanyikan, terpaksa saya mendadak mengganti lagunya menjadi lagu
Bunda. Diawal saya menyanyi cukup lancar, namun dipertengahan reff saya salah
lirik. Wah dalam hati ingin berteriak karena terganggu konsentrasinya oleh ulah
anak-anak yang sengaja ingin mengabadikan ketika saya bernyanyi. Disanalah
titik malu saya keluar, tapi untung saja orang lain tidak menyadarinya.
“Kalaupun mereka menyadarinya ya sudahlah apa boleh buat, itu hanya hiburan
bukan perlombaan”, ujarku dalam hati untuk menenangkan diri. Hingga larut malam
acara hiburan ini, esoknya saya dan calon mahasiswa lainnya akan menutup acara
TAMADA dan menutup juga kebersamaan selama di Barak. Ternyata sedih juga,
ketika sudah mulai nyaman dan mengenal beberapa teman malah sudah waktunya
berpisah. Tapi tak apalah, masih bisa bertemu di lain waktu, toh kita masih
satu kampus nantinya.
TAMADA itu bukan hanya kita dikenalkan dengan lingkungan kampus, tetapi
diajarkan juga bagaimana saling menghormati, menghargai, bahkan menambah
wawasan tentang disiplinnya menjalankan segala aktifitas keseharian kita, yang
tidak melupakan ibadah untuk menyeimbangkan segala urusan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar