KAWAN2 TIA

Sabtu, 10 November 2012

PENGALAMAN SAAT TAMADA


Saya bernama Tia Ardianti yang mendaftarkan diri masuk ke Institut Agama Islam Darussalam mengambil jurusan PGMI mengikuti kedua orangtua saya yang menjadi guru. IAID yang menurut saya menyeramkan ternyata cukup mengasyikkan. Diawal saya datang ke kampus ini saya belum mengetahui banyak hal. Karena saya belum menjelajahinya, bingung? tentu. Teman satu SMA pun tidak ada yang masuk kesini. Disinilah saya mulai mencari pundi-pundi pertemanan baru.
 Saat testing penerimaan mahasiswa baru saya masih bingung mencari dimana tempatnya. Saya berjalan perlahan mencari namsaya yang tertempel rapat pada daftar mahasiswa tiap kelasnya. Disana matsaya tertuju pada sosok wanita berjilbab merah muda, sembari memakai baju longgar yang tak biasa saya lihat. Maklum saja di SMA saya dulu tidak ada yang seperti ini. “Mungkin dia anak pesantren”. Gumam dalam hati. Dan ternyata dia juga satu ruangan testing dengan saya. Anaknya cukup pendiam, lumayan cantik dan kayanya pintar bahasa Arab. Panggil saja dia Lana.
Singkat cerita, pada saat testing ternyata ada juga soal-soal bahasa Arab yang pastinya tidak saya mengerti. Cukup membuat saya mengerutkan dahi. Keringat dingin mulai menghampiri dan seakan-akan seluruh badan terasa lemas karena tidak bisa mengerjakannya. Tapi untungnya, Lana bersedia membantu. Saya copy saja jawabannya, cukup membuat lega hati ini sembari tertawa melihat kebodohan diri sendiri. Hahaha. Sudahlah itu hanya intermezo.
Beberapa hari kemudian saya dapati kabar kalau saya diterima di IAID. Alhamdulillah lumayan senang, tapi perjuangan belum sampai disini. TAMADA (Ta’aruf Mahasiswa Darussalam) masih menanti, dan akan dilaksanakan setelah lebaran. Persiapan mulai dikumpulkan, hingga tibalah waktunya TAMADA. Untung saja tidak terlalu repot membawa perlengkapan, yang penting fisik harus disiapkan karena acara TAMADA ini akan berlangsung selama 4 hari 3 malam, “aduh sungguh perjuangan dan belajar menjadi anak santri hehe”. Melihat teman-teman memakai baju hitam putih sangat enak dilihat, rapi, sopan, pastinya cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dilanjutkan dengan pembagian kelompok, ternyata saya kelompok 2 terdiri dari 10 orang. Pada malam pertama, benar-benar cukup menguras fisik. Sebenarnya tidak melsayakan hal-hal yang aneh, tapi disini kita lebih difokuskan pada kedisiplinan dalam beribadah, seperti shalat tahajud pukul 03.00 WIB, dilanjutkan mengaji dan kuliah subuh dengan mata merem melek pun harus siap mengikutinya, baru diperbolehkan istirahat untuk mandi, olahraga dan makan. Selanjutnya kita juga dituntut untuk mengikuti materi-materi yang disampaikan oleh kakak senior maupun Dosen hingga Rektor. Yang tiap harinya itu calon mahasiswa melangsungkan kegiatan hingga larut malam yakni pukul 23.00 WIB. Waw, pengalaman baru yang melelahkan tapi membawa manfaat. “Mungkin seperti ini kegiatan para santri di dalam”.  Ujarku. Banyak yang merengek, dengan alasan tidak betahlah, kangen mamahlah, capelah, bahkan mungkin ada yang tidak nyaman tidurnya, termasuk saya sendiri juga merengek, tapi cukup dalam hati saja. Teman-teman baru semua saya perhatikan, mulai dari kebiasaan, cara berpakaian, hingga sopan santun perlahan saya ikuti.
Hari terus berlalu, hingga pada malam terakhir sebelum penutupan TAMADA, akan diadakan hiburan dimana yang menghiburnya itu adalah perwakilan dari tiap kelompok. Ya sudahlah saya bersedia menjadi perwakilannya. Mungkin saya akan menyanyikan sebuah lagu dari Wali. Dan ternyata, kelompok saya ditunjuk yang pertama untuk menghibur teman-teman semua. Cukup senang, meskipun memalukan. Karena pada saat saya naik panggung dan akan menyanyikannya, ternyata bapak dosen yang akan mengiringi instrumen tidak tahu lagu wali yang akan saya nyanyikan, terpaksa saya mendadak mengganti lagunya menjadi lagu Bunda. Diawal saya menyanyi cukup lancar, namun dipertengahan reff saya salah lirik. Wah dalam hati ingin berteriak karena terganggu konsentrasinya oleh ulah anak-anak yang sengaja ingin mengabadikan ketika saya bernyanyi. Disanalah titik malu saya keluar, tapi untung saja orang lain tidak menyadarinya. “Kalaupun mereka menyadarinya ya sudahlah apa boleh buat, itu hanya hiburan bukan perlombaan”, ujarku dalam hati untuk menenangkan diri. Hingga larut malam acara hiburan ini, esoknya saya dan calon mahasiswa lainnya akan menutup acara TAMADA dan menutup juga kebersamaan selama di Barak. Ternyata sedih juga, ketika sudah mulai nyaman dan mengenal beberapa teman malah sudah waktunya berpisah. Tapi tak apalah, masih bisa bertemu di lain waktu, toh kita masih satu kampus  nantinya.
TAMADA itu bukan hanya kita dikenalkan dengan lingkungan kampus, tetapi diajarkan juga bagaimana saling menghormati, menghargai, bahkan menambah wawasan tentang disiplinnya menjalankan segala aktifitas keseharian kita, yang tidak melupakan ibadah untuk menyeimbangkan segala urusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar